admin Posted on 7:05 pm

Cerita perilaku tidak etis dari seorang penjual di warung makan terhadap pembelinya

Saya punya teman di komunitas, sebut saja namanya Esther, nah Esther ini pandai memasak, awalnya dia menjual masakannya secara open PO tapi lama kelamaan, karena tes pasarnya berhasil, maka ia membuka restoran yang khusus menjual nasi campur.

Saya tidak sebut warung tapi restoran, karena tempatnya bagus bersih dan sangat nyaman, pelayannya juga memakai seragam, tampaknya profesional seperti restoran bonafide. Kalau sahabat Quora tau restoran Bu Kris, kurang lebih seperti itu gambarannya restoran kepunyaan Esther.

Oya…nasi campur itu kalau di Bali seperti nasi rames, isiannya, nasi (bisa nasi kuning, biasa atau uduk), lauk biasanya ayam betutu atau suir ayam/tuna/sapi/babi, sayur (biasanya kalas kacang/gonde/lawar nangka muda) dan sambah matah atau merah yang super pedes, terus nasinya disiram pakai kuah ayam atau ikan pedas. Makanan rakyat yang sangat disukai bagi warga Bali.

gbr 1. Contoh nasi campur Bali. (foto koleksi pribadi)

Wah..malah bahas soal nasi campur, maaf ya, kembali ke topik yuks.

Saya sering makan di restorannya Esther ini, selain rasa dan harga makanan cocok juga support bisnis teman. Esther hanya datang pagi saat resto akan dibuka untuk mengontrol masakan saja, selanjutnya ia sibuk dengan aktivitas lainnya. Jadi selama beberapa kali makan di sana, saya tidak pernah bertemu dengannya.

Suatu kali, saya kembali makan di sana, kali ini sore hari sekitar jam 4, sebelumnya saya tidak pernah ke sana di luar jam makan siang, namun karena hari itu sangat sibuk, maka saya terlambat untuk makan siang.

Pegawai Esther yang shift pagi semua sudah mengenal saya, namun pegawai yang shift sore sepertinya tidak kenal kalau saya pelanggan sekaligus teman baik boss mereka. Kebetulan saat itu semua yang bertugas shift sore. Terlihat beberapa karyawan sedang sibuk mempersiapkan orderan nasi kotak di ruangan tertutup kaca, sedangkan hanya satu staf yang bertugas jaga di balik meja kasir.

Karena memang bukan jam makan, suasana sangat sepi, saat saya dan suami makan di sana saat itu, hanya kami berdua saja pengunjungnya.

Seperti biasa, saya langsung menuju etalase masakan untuk memilih menu, tapi petugas yang duduk di meja kasir tsb tidak ada tanda-tanda untuk beranjak melayani customer, melainkan tetap sibuk bermain dengan telepon selulernya. Tidak mungkin dia tidak tahu, karena pintu masuk mengeluarkan bunyi berdenting saat di buka, lagian saya menangkap ekor matanya sudah melihat kedatangan kami.

Baru setelah beberapa kali saya panggil, akhirnya ia datang dengan muka masam dan malas-malasan. Ia seret langkah kakinya saat akhirnya berjalan untuk melayani customer. Kemudian masih dengan cemberut, ia mengambil masakan yang saya tunjuk, dan kesabaran saya mulai diuji saat saya menunjuk cumi cabai hijau untuk ditambahkan ke piring namun bukannya mengambilkan namun malah ia berkata ketus :

” Ini MAHAL ! Seporsi 10 ribu ! “

Iya mbak..gak apa-apa” jawab saya datar masih menahan rasa sabar.

Suami yang antre di belakang, juga sudah mulai gelisah melihat masamnya oknum pegawai tsb.

gbr 2. Ilustrasi memilih menu makanan. Cuma restonya Esther lebih rapi (foto dari google)

Oke..akhirnya bereslah, saya kemudian mengambil nasi pesanan kami, sambil memesan minuman 2 es teh tawar.

Masih dengan muka cemberut dengan level yang makin dinaikkan, pegawai itupun terlihat ogah-ogahan membuat orderan kami. Dibuatnya pun sangat luamaaaa sekali. Kurang lebih 20 menit hanya untuk 2 gelas es teh tawar. Makanan di piring sampai sudah habis, dan kami mulai megap-megap kepedesan (yang pernah tahu masakan nasi campur asli Bali, pasti bisa bayangkan level pedesnya lah ya) sementara es teh tak kunjung datang.

Dengan amat berat hati karena terbayang wajah masam mbaknya tsb, saya terpaksa menanyakan kembali es teh orderan kami, dan malah dijawab dengan teriakan (ketus) ” Sebentar, lagi dibikinnnnn !”

Dan ketika si mbak pegawai membawanya ke meja kami, ia MEMBANTING es teh itu sodara-sodara, sampai muncrat ke meja bahkan memerciki t-shirt serta tas Leighton Mulberry saya.

Sebetulnya bukan percikan itu yang menyulut percikan amarah saya, namun perilakunya yang sangat tidak sopan yang ditunjukkan dari awal hingga kami makan. Lha kami bayar jee..bukan ngemis, setidaknya layanilah customer sesuai dengan tugas, tidak perlu berlebih, namun yang pantas.

Sudah kepedesan, disiram es teh pulak! Cocok sudah untuk menyulut meledaknya esmosi saya.

Langsung saja saya video call Esther di depan pegawai tersebut (tentu saja setelah minum, sudah tidak tahan, kepedesan sekali kan soalnya 😌), oya…saya juga sengaja menunjukan es teh yang tumpah kemana-mana, sebagai bukti nyata kepada boss-nya bagaimana kelakuan buruk pegawainya kepada customer. Esther langsung murka, dimarahi habis-habisan anak buahnya, saya malah jadi batal ikut marahin, waktu melihat boss-nya sudah naik pitam.

Tentu saja, berakhir dengan drama tangisan oknum pegawai minta maaf, takut dipecat boss-nya. Tau gak alasannya kerja tidak bener tadi? Karena sedang ada masalah dengan pacarnya. Hedehhh..! Dasar ababil (ABG labillebay! Giliran kena batunya nangis-nangis, waktu melakukannya tidak pikir panjang.

Semenjak kejadian itu, saya sih tetap makan di restorannya Esther, namun staf yang bermasalah telah dipindah ke bagian help kitchen, bagian cuci piring dan bantu-bantu cook.

Hikmah lainnya, Esther juga memasang cctv yang tersambung dengan handphone-nya, jadi sewaktu-waktu dapat mengecek keadaan restorannya. Agar mutu yang baik dapat selalu ia jaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *